Rabu, 30 Mei 2012

Laporan Hasil Survey : Kelompok Kerja


Penelitian mengenai Pengaruh Kelompok Kerja pada Perilaku Individu ini dilaksanakan untuk kepentingan Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, dimana saya menggunakan survey online berupa kuisioner yang terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan dan dapat diakses oleh koresponden yang merupakan mahasiswa/i Fakultas Psikologi USU melalui situs yang bernama kwiksurveys.com.

Saya mengambil judul tersebut karena pada dasarnya sistem kuliah dan pengerjaan tugas di Mata kuliah Psikologi Pendidikan dan beberapa mata kuliah lainnya menggunakan kelompok kerja yang terdisi dari 3-6 orang. Sehingga eksistensi kelompok kerja kemungkinan akan berpengaruh pada perilaku individu dalam kelompok tersebut.

Survey ini diikuti oleh 56 partisipan dan berikut adalah persentase pilihan jawaban dari 10 pertanyaan yang ada :

 Sangat tidak sesuaiTidak sesuaiNetralSesuaiSangat sesuaiResponsesTotal
Anda merasa nyaman bekerja dalam kelompok.0%10.71%44.64%39.29%5.36%5610%
Anda lebih suka memilih sendiri rekan kerja kelompok Anda.1.79%3.57%23.21%51.79%19.64%5610%
Pembagian tugas dalam kelompok selalu adil.3.57%16.07%35.71%42.86%1.79%5610%
Rekan kelompok sering tidak peduli pada kesulitan rekan yang lain.0%16.07%41.07%30.36%12.50%5610%
Anda selalu mengenal dengan baik rekan kelompok Anda.0%21.43%41.07%35.71%1.79%5610%
Bekerja dalam kelompok meringankan beban tugas Anda.1.82%3.64%21.82%63.64%9.09%5510%
Rekan sering lalai dan tidak tepat waktu dalam mengerjakan tugas.0%7.14%44.64%35.71%12.50%5610%
Anda sering merasa tidak setuju dengan pendapat anggota kelompok Anda.1.79%30.36%48.21%17.86%1.79%5610%
Apabila Anda mampu, Anda akan mengerjakan sendiri tugas kelompok yang diberikan.0%8.93%28.57%46.43%16.07%5610%
Anda tidak akan berusaha terlalu keras dalam tugas kelompok karena yakin teman anda akan melakukannya dengan lebih baik.12.50%51.79%26.79%7.14%1.79%5610%


Melalui tabel di atas, peneliti melihat bahwa sebagian besar koresponden tidak merasa keberatan dengan dibentuknya suatu kelompok ataupun untuk bekerja bersama kelompok dalam pengerjaan tugas yang diberikan oleh dosen. Salah satu alasan yang paling dominan adalah mahasiswa/i sebagai anggota kelompok merasa bahwa beban tugas mereka berkurang karena adanya kerja sama dalam kelompok tersebut. Hal ini dapat dilihat pada tabel, bahwa terdapat presentase sebesar 63.64% koresponden yang setuju bahwa pekerjaan akan menjadi lebih ringan dengan adanya kelompok kerja. Walaupun begitu, terdapat kemungkinan yang cukup besar bahwa seorang anggota akan mengerjakan secara individual sebuah tugas kelompok apabila ia mampu. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kondisi kelompok yang mungkin tidak memberi kenyamanan pada masing-masing anggota.

Faktor penting lain yang mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok adalah rekan kelompok. Terdapat 71.43% koresponden yang setuju untuk memilih sendiri dengan siapa mereka akan bekerja. Tentunya hal ini berpengaruh pada kepuasan dan kenyamanan anggota di dalam kelompok. Namun hal lain yang perlu digaris bawahi adalah, sebagian besar koresponden, yaitu sebanyak 51.79%, mengatakan bahwa mereka akan mengerjakan tugas kelompok dengan sebaik-baiknya terlepas dari hal-hal negatif yang ada dalam kelompok. Koresponden juga tidak merasa rendah diri ataupun melepas tanggung jawab dengan menganggap anggota akan meng-cover tugas dengan lebih baik.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa eksistensi kelompok kerja memberikan pengaruh yang positif terhadap individu sebagai anggota kelompok kerja. Namun, tetap terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan terutama dalam pemilihan rekan kelompok karena hal ini merupakan aspek penting dalam kelancaran proses pengerjaan. Ada baiknya dosen memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk menentukan sendiri cara pembagian kelompok untuk mengejakan tugas yang diberikan sehingga akan meningkakan efektifitas kerja dalam kelompok.

TESTIMONIAL :
Setelah survey online ini saya kerjakan sampai selesai, saya tidak merasakan atau mengalami kesulitan yang berarti. Survey secara online sangat menguntungkan baik dari sisi peneliti maupun koresponden. Dengan menggunakan cara online seperti ini, peneliti dapat meminimalisir biaya penelitian, seperti biaya kertas, pencetakan kuisioner, ataupun biaya transportasi untuk mendatangi para koresponden. Dari sisi koresponden, survey online ini juga membantu meringankan beban biaya transportasi dan menghemat waktu.

Namun, setiap hal ada sisi positif dan negatifnya. Survey online ini dapat menjadi masalah apabila tidak tersedianya fasilitas yang mendukung baik dari sisi peneliti maupun koresponden. Ketidakmahiran dalam teknologi juga dapat menjadi faktor penghambat. Ditambah lagi, apabila terdapat pertanyaan yang tidak jelas, akan sulit bagi koresponden untuk menanyakannya pada si peneliti apabila tidak ada fasilitas pendukung yang lain (seperti email, facebook, dll).

Walaupun begitu, saya sudah cukup puas pada proses pengerjaan kali ini. Ini merupakan pengalaman, ilmu, dan wawasan yang cukup berharga dan bermanfaat untuk keperluan saya kedepannya

Terima kasih! :)

Sabtu, 12 Mei 2012

BLENDED LEARNING

Setelah melakukan diskusi dengan teman-teman, akhirnya saya pun semakin mengerti tentang sistem pembelajaran blended learning. Dari sumber http://www.muhammadnoer.com/2010/07/blended-learning-mengubah-cara-kita-belajar-di-masa-depan/ yang telah kami diskusikan, didapat pengertian bahwa blended learning adalah metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis. Jadi, para siswa menggunakan gadget yang terkoneksi dengan internet sementara juga terdapat instruktur yang akan memberikan pengajaran dua arah dan feedback.

Adapun sumber lain dari http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Blended_learning&ei=aTGuT6D5B4LYrQf7kqzuAw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&sqi=2&ved=0CCoQ7gEwAA&prev=/search%3Fq%3Dblended%2Blearning%26hl%3Did%26biw%3D1366%26bih%3D568%26prmd%3Dimvnsbl mengatakan bahwa seorang instruktur dapat mulai kursus dengan pelajaran yang terstruktur dengan baik pengantar dalam kelas, dan kemudian dilanjutkan dengan tindak lanjut materi online.

Jadi, bukan hanya dari sisi mahasiswa yang dipersiapkan, namun juga dari sisi instrukturnya, yaitu dosen ataupun guru yang mengajar. Mahasiswa mempersiapkan diri untuk menerima sebuah metode pengajaran yang baru, mempersiapkan laptop, komputer, ipad, ataupun gadget lain yang mendukung, serta koneksi internet yang memadai. Instruktur mempersiapkan diri dengan mengetahui cara-cara yang efektif untuk menjalankan proses pembelajaran serta memotivasi mahasiswa untuk menggunakannya dengan cermat dan baik.


Blended learning membutuhkan waktu untuk kedua instruktur dan peserta didik untuk beradaptasi dengan konsep pembelajaran yang relatif baru. Jika blended learning dapat dipersiapkan dengan matang dari segi mahasiswa dan instruktur, maka blended learning akan menjadi metode yang cukup efektif untuk diterapkan dalam dunia pendidikan.

Psikologi Pendidikan dan Blended Learning

Hari ini, mata kuliah Psikologi Pendidikan menggunakan pengajaran yang bermetode blended learning. Jadi, tiap mahasiswa harus membawa gadget yang berfungsi untuk online di gmail. Ini merupakan persiapan individu untuk menghadapi metode pembelajaran baru. Nah, disini sudah mulai terdapat beberapa kendala, seperti mahasiswa yang tidak mempunyai laptop atau tidak bisa membawanya karena beberapa hal internal.
Kemudian setelah sampai di kelas, para mahasiswa butuh koneksi internet wifi. emang ada sih beberapa orang membawa modem, tapi mayoritas memanfaatkan wifi. Kemudian kebetulan pada pagi tadi sinyal wifi sedang tidak begitu bermanfaat. Sehingga menjadi kendala juga bagi para mahasiswa karena koneksi yang terputus-putus.
Lalu, blended learning itu sebenernya merupakan perpaduan pembelajaran konvensional dengan materi online, nah tadi kami sudah mendapatkan dari segi materi onlinenya, namun pembelajaran konvensional dimana instruktur berada di dalam kelas, tadi tidak terjadi karena Ibu Dina sedang ada urusan lain. Sehingga tadi sempat terjadi ketidakkondusifan dimana beberapa siswa keluar kelas. Hal ini adalah kesalahan bersama, tidak bisa dipungkiri masih terdapat beberapa kelemahan yang harus diperbaiki dan ditingkatkan demi keefektifan sistem blended learning ini.
Pada dasarnya, bila blended learning ini berjalan dengan lancar dimana terdapat hanya sedikit kendala yang tidak begitu mengganggu, maka sistem ini akan sangat membantu dalam proses pembelajaran. Dimana terdapat sumber online yang bisa kita akses langsung, dan ada instruktur yang memberi kita feedback sehingga pembelajaran tetap berlangsung dua arah.
Demikian pendapat saya tentang blended learning. Semoga dapat terus dikembangkan. Semangat ! :)

Jumat, 04 Mei 2012

Pendidikan Anak Luar Biasa

Pendidikan anak luar biasa adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, ataupun anak didik yang memiliki bakat istimewa.
Dikarenakan kelainan-kelainan itulah maka anak-anak didik tersebut disekolahkan di sekolah khusus yaitu Sekolah Luar Biasa. Adapun pembagiannya adalah : SLB A untuk anak tunanetra, SLB B untuk anak tunarungu, SLB C untuk anak tunagrahita, SLB D untuk anak tunadaksa, SLB E untuk anak tularas, dan SLB G untuk cacat ganda.

Sistem Pendidikan Anak Luar Biasa :

1. Sistem Pendidikan Segregasi : dilaksanakan terpisah dari anak normal
  • adanya rasa ketenangan pada anak luar biasa
  • sarana dan prasarana yang sesuai
  • kesesuaian metode pembelajaran
  • namun sosialisasi terbatas dan pendidikan relatif mahal

2. Sistem Pendidikan Inntegrasi : dilaksanakan bersama-sama dengan anak yang normal
  • merasa diakui kesamaan haknya
  • lebih banyak bersosialisasi
  • menumbuhkan motivasi belajar

"pandanglah mereka sebagi pribadi, bukan kecacatannya."