Senin, 29 April 2013

Hal Kecil Namun Besar

Perkuliahan paedagogi pagi ini, Senin, 29 April 2013, berlangsung menyenangkan. Kelas diampu oleh Ibu Lita. Hari ini tidak ada materi namun hanya presentasi oleh tiga orang mahasiswa yang tugasnya terpilih menjadi yang terbaik. Setiap orang mempresentasikan hasil tugas wawancara mereka dengan sangat baik. Saya sampai kagum karena mereka begitu baik dalam merancang dan mengaplikasikan informasi yang mereka dapat ke dalam teori.

Setiap presenter selesai, akan ada sesi tanya jawab. Namun, sayang kelas pagi itu tidak terlalu aktif, hanya sekitar 5 orang yang bertanya (termasuk saya loh :p). Mungkin karena masih pagi jadi masih banyak yang belum mau berfikir ataupun karena belum sarapan (tidak boleh dicontoh ya!). Tapi, secara keseluruhan ketiga presentasi berlangsung lancar.

Nah, tibalah saat pembagian reward !
Yang paling saya sukai dari dosen pengampu ini adalah ia selalu memberikan reward kepada orang-orang terbaik, dan rewardnya adalah... COKLAT ! Saya menjadi sangat iri pada ketiga orang tersebut. Lalu ada temen saya yang nyeletuk, "beli sendiri juga bisa". Saya tertegun. 

Saya menyadari bahwa bukanlah harga sebuah hal yang kita lihat, namun makna hal tersebut.

Memang, kita bisa mendapatkan coklat tersebut dengan membelinya. Namun, ketika hal tersebut diberikan sebagai tanda penghargaan atas usaha yang sudah kita lakukan, coklat tersebut menjadi tak ternilai harganya. Benar bukan? (Benar !) 

Ingatlah, semua hal adalah berharga, ketika kamu mau menghargainya. :)

Minggu, 14 April 2013

LAPORAN HASIL WAWANCARA

BAB I
PENDAHULUAN


1. LATAR BELAKANG
     Paedagogi merupakan seni dalam mendidik dan mengajar anak dimana terdapat dasar ilmiah yang perlu diketahui dan dipahami oleh guru. Dasar ilmiah tersebut meliputi : ilmu sosial, psikologi, sosiologi, dan komunikasi yang dapat dan akan terus berubah sejalan dengan penemuan baru di bidangnya.
    Kegiatan mendidik dan mengajar yang baik menuntut kehadiran guru yang baik pula. Guru yang cerdas mencerminkan ketaatan pada etika dan asas pengetahuan, integritas pribadi, dan kemampuan berkomunikasi. Guru yang baik cerman dalam bertutur dan bertindak dalam membantu siswa mengembangkan kebiasaan berpikir rasional dan belajar dalam suasana yang menyenangkan.

2. TUJUAN WAWANCARA
       Adapun tujuan dari kegiatan wawancara ini adalah :
1. Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Paedagogi
2. Mengumpulkan data mengenai :
  • Pandangan guru mengenai pendidikan
  • Motivasi dasar yang dimiliki oleh guru
  • Sudut pandang dalam melihat peserta didik
  • Filosofi yang dimiliki dalam mengajar
  • Pendekatan yang digunakan dalam mengajar

3. MANFAAT WAWANCARA
       Manfaat yang diharapkan dari wawancara ini adalah :
1. Memberikan kontribusi pengetahuan dan wawasan yang lebih luas kepada pembaca menyangkut pendidik dalam kehidupan nyata
2. Memperdalam pengetahuan Paedagogi bagi para pembaca
  

BAB II
HASIL WAWANCARA

1. IDENTITAS
Nama                                             : IS
Tempat/Tanggal Lahir                  : Klumpang, 13 Juni 1980
Jenis Kelamin                               : Pria / Wanita
Pendidikan Terakhir                     : S1 Sastra Inggris
Guru Mata Pelajaran                    : Bahasa Inggris
Lama Mengajar                            : 12 Tahun

2. PELAKSANAAN
Hari/Tanggal       : Selasa, 9 April 2013
Waktu                  : 12.05 – 12.20 WIB
Tempat                : Ruang guru SMA Harapan 1, Jalan Imam Bonjol No.35, Medan

3. HASIL
Wawancara yang dilakukan mendapatkan beberapa hasil, antara lain :

PANDANGAN TENTANG PENDIDIKAN
Menurut Bapak IS, pendidikan adalah suatu standar keberhasilan seseorang dalam hidup. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengubah akhlak seseorang. Akhlak yang buruk dididik menjadi akhlak yang baik. Menurutnya, pendidikan di Indonesia sudah 60% baik. Hal ini dikarenakan faktor lingkungan, pemerintahan, dan pengajar yang masih perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Cara yang mungkin untuk mengatasinya adalah dengan adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, peningkatan kesejahteraan pengajar, dan sekolah yang menentukan kelulusan seorang anak. Sebaiknya Indonesia menganut sistem pendidikan di luar negeri dimana anak hanya diajarkan mata pelajaran yang tidak terlalu banyak namun yang utama sehingga anak dapat memberikan hasil yang lebih maksimal.

MOTIVASI
Motivasi utama Bapak IS adalah penghasilan. Namun baginya, di Indonesia sendiri penghasilan pengajar belum mencukupi. Sehingga menurutnya motivasi lain yang mendasarinya adalah keinginan dari dalam diri untuk memberikan pengajaran pada anak didik.

STRATEGI
Bapak IS menggunakan berbagai strategi dalam mengajar antara lain, ceramah dan menjelaskan, mencari dan menemukan, kelompok dan tim, serta pengalaman dan refleksi. Hal ini dilakukan dengan cara peserta didik sering diajak ke taman untuk membuat suasana yang aktif dan menyenangkan dan memancing kreativitas. Ia juga sering mengikuti keinginan anak dalam menentukan strategi pembelajaran yang mana yang akan ia gunakan. Namun, tetap dalam jalur yang telah ditentukan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Strategi ini ia pilih untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Menurut Bapak IS, strategi apapun yang digunakan oleh pengajar haruslah mengandung akhlak yang baik. Alat yang sering digunakan adalah laptop, proyektor, video pembelajaran, alat musik, alat olahraga, whiteboard, dan spidol. Ia selalu melakukan pengajaran dengan melibatkan teknologi dalam memaksimalkan proses pembelajaran.

PANDANGAN TENTANG PESERTA DIDIK
Bapak IS memandang peserta didik sebagai anak yang kurang kasih sayang. Menurut pengalamannya, 75% dari seluruh murid yang ia ajar memiliki masalah kekurangan kasih sayang. Hal ini ia lihat karena kurangnya semangat anak ketika berada di sekolah. Ia pun berusaha mengatasinya dengan berusaha memberikan perhatian pada masing-masing anak semaksimal mungkin.

FILOSOFI
Bapak IS memiliki filosofi bahwa proses merupakan inti dari pengajaran. Karena proses tersebut lah yang menentukan masa depan anak. Setiap anak harus menyadari pentingnya pendidikan. Dengan menyadari hal tersebut, kegiatan proses pengajaran akan menjadi lebih maksimal. Pengajar juga berperan dalam mewujudkan hal ini yang dapat dimanifestasikan dalam bentuk penyesuaian suasana kelas dan strategi pengajaran untuk meningkatkan motivasi para siswa.

PENDEKATAN
Bapak IS menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak. Hal ini dilakukan dengan menyesuaikan setiap cara mengajar dengan kondisi anak (misalnya, mood). Apabila suasana terlihat tidak bersemangat, Bapak IS akan memberikan energizer terlebih dahulu. Dan apabila terdapat anak yang sulit atau bermasalah, Bapak IS akan berusaha menyelesaikannya secara personal dengan sang anak. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan wawancara mengenai masalah yang dihadapi anak.

TANTANGAN
Tantangan yang dihadapi Bapak IS dalam mengajar adalah mengatur diri ketika sedang memiliki masalah pribadi. Bapak IS berusaha sebisa mungkin dalam menyembunyikan hal tersebut ketika melakukan pengajaran sehingga hal ini tidak mengganggu anak dalam proses pengajaran.


BAB III
PEMBAHASAN

1. KETERKAITAN DENGAN TEORI
     Hasil wawancara yang ditemukan dapat dikaitkan dengan beberapa teori yang ada dalam buku Prof. Dr. Sudarwan Danim yaitu “Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi” bab 1 sampai dengan 10, antara lain :

PENGAJAR YANG CERDAS
   Kegiatan pembelajaran yang baik menuntut kehadiran guru yang baik. Guru yang cerdas mencerminkan beberapa hal. Pertama, menunjukkan keterpelajaran yaitu efektif menginspirasi dan memotivasi murid dengan baik. Bapak IS telah menunjukkannya dengan melakukan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak di dalam kelas secara keseluruhan untuk meningkatkan motivasi belajar anak.
     Kedua, adanya integritas dalam diri pengajar. Hal ini ditunjukkan Bapak IS dengan adanya rasa percaya diri yang tidak berlebihan dalam mengajar. Semua hal dilakukan dengan berdiskusi terlebih dahulu dengan anak mengenai strategi apa yang akan digunakan dalam pengajaran di saat-saat tertentu.
     Ketiga, kemampuan berkomunikasi dengan siswa. Bapak IS selalu berusaha melakukan komunikasi dalam menentukan strategi pengajaran dan membicarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak yang sulit untuk mengikuti proses pembelajaran.
     Sehingga, dapat dikatakan bahwa Bapak IS telah memiliki ketiga karakteristik pengajar yang cerdas menurut Sudarwan Danim.

STRATEGI PENGAJARAN
     Terdapat 5 strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu : 1) pelatihan dan pelatihan lanjut, 2) ceramah dan menjelaskan, 3) mencari dan menemukan, 4) kelompok dan tim, 5) pengalaman dan refleksi.
    Dari kelima strategi di atas, Bapak IS telah menggunakan strategi 2, 3, 4, dan 5 dalam proses pembelajaran. Strategi tersebut ia sesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta didik. Dengan hal ini, Bapak IS menjadi lebih efektif dalam melakukan proses pengajaran.

KARAKTERISTIK GURU YANG DIINGINKAN
     Bapak IS telah memiliki beberapa karakteristik guru yang diinginkan berdasarkan buku Sudarwin Danim, antara lain :
  1. Memiliki kepribadian yang tulus dan rendah hati
  2. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik
  3. Menjadi pendengar yang baik
  4. Memiliki sifat yang kooperatif
  5. Memiliki pandangan positif pada pengajaran
  6. Dapat mengelola siswa di dalam dan luar kelas
  7. Dapat memodifikasi teknik pengajaran
  8. Memiliki selera humor yang baik

TOP 10 KUALITAS GURU YANG BAIK
   1. Confidence. Guru yang baik menghadapi semua situasi dan waktu yang bisa saja dianggap kemunduran olehnya. Bapak IS mencoba untuk menyesuaikan situasi yang sulit dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang akan memperbaiki suasana seperti melakukan energizing.
   2. Patience. Guru yang baik bersedia melakukan apapun yang diperlukan, tidak peduli berapa waktu yang diperlukan. Bapak IS mengungkapkan bahwa ketika terdapat anak yang bermasalah ketika pembelajaran, ia akan mendatangi anak tersebut dan mendiskusikan permasalahan yang ada dengan empat mata sampai anak tersebut bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
    3. True compassion for their students. Guru yang baik memiliki rasa kasih sayang sejati pada siswanya. Hal ini Bapak IS tunjukkan dengan sebisa mungkin memperhatikan siswanya secara individual dan membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa.
   4. Understanding. Guru yang baik tidak memiliki teknik yang kaku dalam pengajaran. Seperti yang Bapak IS lakukan, ia sering berganti–ganti strategi dalam pengajaran untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didik.
   5. The ability to look at life in different way and to explain a topic in a different way. Guru yang baik tidak menggunakan satu cara untuk semua pokok bahasan yang disajikan. Dalam hal ini, Bapak IS banyak menggunakan media dalam mengajar, seperti menampilkan video, menggunakan alat-alat peraga, dan lain-lain yang tentunya akan membantu pemahaman siswa.
   6. Dedication to excellence. Guru yang baik ingin siswa belajar dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari, tidak hanya sebatas bisa lulus tes. Seperti yang dikatakan Bapak IS, ia memusatkan pembelajaran pada proses, bukan hasil. Ia yakin, proses yang baik akan dapat memberikan hasil yang maksimal pula, tidak hanya nilai yang tinggi.
   7. Unwavering support. Guru yang baik mendorong siswa yang frustrasi untuk berprestasi. Hal ini dilakukan Bapak IS dengan menanyakan dan membantu kesulitan yang dihadapi anak agar dapat mengikuti pembelajaran lebih maksimal.
   8. Willingness to help student achieve. Guru terbaik tidak “berhenti mengajar” ketika bel berbunyi. Namun, dari hasil wawancara, Bapak IS tidak memberikan informasi bahwa ia mengajarkan anak di luar jam pelajaran. Sehingga, hal ini mungkin belum dilakukan oleh Bapak IS.
   9. Pride in student’s accomplishment. Guru yang baik bangga dengan siswanya yang mendapatkan nilai yang baik atau memperoleh kehormatan. Bapak IS tidak berpusat pada nilai, melainkan proses yang baik. Sehingga hal ini tidak menjadi fokus utamanya dalam mengajar.
  10. Passion for life. Guru terbaik bersemangat pada bidang tugasnya. Mereka menghadapi tugas sebagai tantangan, bukan rutin semata. Bapak IS tidak menunjukkan karakter ini, karena dari pengalamannya 12 tahun mengajar, ia hanya memandangnya sebagai hal rutin sesuai dengan motivasinya untuk mendapatkan penghasilan.

PEDAGOGI, TIK, DAN FENOMENA KONTEMPORER
   Teknologi informasi dan komunikasi memiliki pengaruh besar pada dunia dimana orang-orang muda hidup. Demikian pula belajar yang didukung atau difasilitasi oleh TIK memiliki potensi yang cukup besar untuk mendukung pendekatan pengajaran.
     Seperti yang Bapak IS lakukan, ia banyak menggunakan TIK dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan laptop, proyektor, dan video dalam melakukan proses pengajaran.


BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil wawancara dan keterkaitan dengan teori, dapat disimpulkan bahwa Bapak IS :
  • Bapak IS memiliki pandangan positif mengenai pendidikan. Namun, perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
  • Walaupun motivasi utama Bapak IS adalah penghasilan, ia tetap berusaha memberikan pengajaran yang baik pada peserta didik.
  • Bapak IS telah memanfaatkan banyak strategi dalam mengajar. Sehingga hal ini membuat proses pembelajaran Bapak IS menjadi lebih efektif.
  • Bapak IS memandang peserta didik sebagai anak yang kekurangan kasih sayang.
  • Filosofi Bapak IS dalam mengajar adalah mengutamakan proses dibandingkan hasil.
  • Pendekatan Bapak IS dalam mengajar adalah berpusat pada siswa.
  • Tantangan yang dihadapi Bapak IS adalah pengaturan diri di dalam kelas ketika sedang memiliki masalah pribadi.
  • Bapak IS termasuk dalam kategori pengajar yang cerdas.
  • Bapak IS telah mengaplikasikan empat dari lima strategi yang ada dalam buku sumber pustaka.
  • Bapak IS memiliki 8 dari 20 karakteristik guru yang diinginkan yang ada dalam buku sumber pustaka.
  • Bapak IS memiliki 7 dari 10 karakteristik guru berkualitas baik yang ada dalam buku sumber pustaka.
  • Bapak IS telah memanfaatkan teknologi dengan baik dan efektif.

BAB V
TESTIMONI DAN SARAN

1. TESTIMONI
   Kegiatan wawancara ini merupakan hal yang baik untuk dilakukan demi mendapatkan fakta mengenai pandangan guru dalam kehidupan nyata. Dengan melakukan wawancara, kita dapat melihat implementasi teori yang ada dalam buku dengan keadaan di lapangan.
  Proses wawancara yang saya laksanakan berjalan lancar. Dimulai dari perencanaan, pemilihan narasumber, kesediaan narasumber, dan waktu wawancara. Lingkungan wawancara yang sudah tidak asing lagi bagi saya, karena saya dulunya bersekolah disitu, membuat saya nyaman dalam melakukan proses tanya jawab. Secara keseluruhan, proses pengerjaan tugas ini tidak memiliki kendala dan menyenangkan.

2. SARAN
     Setelah saya melakukan kegiatan wawancara, saya memiliki beberapa saran bagi para pembaca, seperti :
  • Persiapkan pertanyaan dengan terstruktur dan jelas
  • Gunakan media rekam untuk mempermudah proses wawancara dan mengingat jawaban narasumber
  • Perhatikan jam istirahat sekolah. Jangan sampai mengganggu kegiatan mengajar narasumber
  • Berikan reward sebagi tanda terimakasih dan penghargaan telah berpartisipasi dan membantu kegiatan wawancara
  

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Danim, S. & Khairil.(2010).Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi.Bandung : Alfabeta



Who wants to be a teacher? ME !

Jumat, 12 April 2013

UTS 2012/2013

A. Proses pembelajaran yang kami rencanakan adalah :

  1. Tema : Belajar Bahasa Inggris
  2. Materi pembelajaran : mengajarkan anak membuat kalimat sederhana
  3. Waktu pelaksanaan : 1 jam 30 menit, 6 April 2013
  4. Tempat pelaksanaan : rumah M. Oktorianta jalan Balam no.36a
  5. Alat dan bahan : pensil, penghapus, meja, kursi, alat mewarnai, kertas gambar, laptop, kamera, modul bahasa inggris
  6. Jumlah peserta pembelajaran : 5 orang
  7. Proses pembelajaran : diawali dengan memperkenalkan anak dengan cara membuat kalimat sederhana dalam bahasa Inggris. Kemudian anak diminta untuk menggambar objek apapun yang mereka sukai. Setelah itu, pengajar memberi tahu kata tersebut dalam bahasa Inggris. Anak pun dibimbing untuk membuat kalimat sederhana dari kata yang mereka buat. Terakhir, anak menceritakan tentang apa yang mereka gambar.)

Jika hal ini dipandang dari tinjauan pedagogi praktis abad ke 21, maka..


Seperti yang kita ketahui, hingga saat ini tidak ada buku teori atau buku teks yang dapat menjelaskan sepenuhnya detail atau memprediksi perilaku pedagogi seutuhnya. Disinilah pedagogi praktis dilihat sebagai kegiatan pengajar di lapangan yang merupakan implementasi dari pedagogi teoritis. Pedagogi praktis ini disebut juga dengan progressive pedagogy. 

Menurut Youth dan Lucas (1999) penting bagi guru untuk mengembangkan pendekatan diri sendiri terhadap pedagogi, antara lain :
  • pertimbangan tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang mendukung pengajaran. kelompok kami memiliki tujuan bahwa dengan anak mempelajari bahasa asing, yaitu Inggris, yang merupakan bahasa kedua yang penting untuk dipelajari dapat dimulai dengan mempelajari kata untuk hal yang mereka sukai. Sehingga hal ini akan membuat mereka senang untuk belajar karena adanya keterkaitan secara emosional (hal yang mereka sukai)
  • pengetahuan tentang teori belajar. Kelompok kami telah membekali diri dengan pengetahuan akan prinsip-prinsip dan cara-cara pengajaran yang mendukung terciptanya pembelajaran yang baik. Sehingga, proses pembelajaran yang kami lakukan sudah terencana dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.
  • pengetahuan tentang konsep-konsep yang berbeda dari mengajar. Kelompok kami telah mempersiapkan diri dengan konsep-konsep pembelajaran yang mungkin dapat diterapkan pada anak. Sehingga meminimalisir kesalahan dalam pengajaran yang mungkin bisa tidak sesuai dengan karakteristik anak.
  • pengetahuan tentang model pengajaran dan pembelajaran dan interaksi dinamis karakteristik siswa, lingkungan belajar, tuntutan tugas, proses pengajaran dan pembelajaran, dan berbagai jenis pembelajaran. Kelompok kami berusaha untuk melakukan model pembelajaran yang interaktif dan fleksibel, menyesuaikan diri dengan karakteristik anak, dan menciptakan suasa pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
  • memahami bagaimana pedagogi dapat dioperasionalkan di dalam kelas. Dalam hal ini, kelompok kami menyesuaikan lingkungan pembelajaran yang tersedia dengan cara yang sebaik mungkin dan membuat anak peserta didik meerasa nyaman berada dalam ruang pembelajaran.
  • pengetahuan dan keterampilan untuk mengevaluasi praktik, penelitian, dan teori yang berkaitan dengan pendidikan. Hal ini telah kami rangkul dengan berusaha memaksimalkan pengajaran yang kami berikan dan materi ajar yang sesuai bagi anak, serta berpedoman pada teori pedagogi yang ada.
Ketika kita berbicara abad 21, kita tidak akan terlepas dari perkembangan teknologi. Disinilah pedagogi praktis abad 21 mulai dipengaruhi oleh teknologi. Dalam kelompok kami sendiri pun tak terlepas dari pengaruh teknologi. Misalnya saja penggunaan alat-alat foto, perekam dan laptop. Peserta didik kami pun juga mencari gambar yang ia sukai melalui media internet kemudian menggambarnya di kertas gambar. Hal ini telah menunjukkan pedagogi praktis abad 21.


B. Data hasil observasi pembelajaran terhadap peserta didik:
Aga
- tidak banyak berbicara
- suara pelan
- menunduk
- tidak banyak kontak mata
- ketika ditanya sering hanya diam
- menjawab dengan anggukan atau gelengan
- menggambar sambil sesekali minum
- menggambar sambil sesekali makan permen
- terpaku pada gambar yang sudah ada yang telah ia cari sebelumnya
- setelah selesai mewarnai, ia berdiri dan berjalan ke arah jendela
- berjalan sambil menggerak-gerakkan tangan, kaki, dan kepala, sambil bernyanyi

Febby
- tidak banyak berbicara
- tersenyum ketika diajak bicara
- bersembunyi dibalik tubuh Winda ketika diajak berbicara oleh Rajief atau Okto
- terkadang menjawab dengan gelengan
- sesekali bertanya gambar apa yang harus ia gambar lagi
- sesekali menanyakan warna apa yang harus ia gunakan
- menjawab pertanyan dengan pelan
- menanyakan sesuatu dengan berbisik kepada Winda
- saat diminta untuk menjelaskan gambarnya, ia menjelaskan dengan lancar

Data hasil observasi pembelajaran terhadap pengajar :
Winda
- duduk disamping anak
- menjawab pertanyaan Febby dengan tidak berbisik seperti yang Febby lakukan
- memberikan saran saat Febby menanyakan warna apa yang sebaiknya ia gunakan
- sesekali bertopang dagu
- sesekali melipat tangan
- berpindah tempat untuk memperhatikan kedua anak
- suara tidak terlalu kuat
- duduk bersila
- duduk dengan melipat kaki
- tersenyum saat berinteraksi dengan anak
- tertawa saat berinteraksi dengan anak
Rajief
- bergerak berkeliling untuk mendokumentasikan proses pembelajaran
- sesekali berinteraksi dengan Aga maupun Febby
- tersenyum saat berinteraksi dengan anak
- tertawa saat berinteraksi dengan anak
- memberikan isyarat-isyarat ketika suara Winda maupun Okto terlalu kecil
Okto
- duduk disamping anak
- sesekali memegang kepala anak
- sesekali memegang pipi anak
- tersenyum saat berinteraksi dengan anak
- tertawa saat berinteraksi dengan anak

Evaluasi hasil pembelajaran : 
Dapat dilihat bahwa anak mampu untuk melakukan apa yang diminta. Namun, mereka membutuhkan dorongan dari luar yaitu dari para pengajar. Mereka juga terlihat malu-malu untuk melakukan sesuatu. Febby di awal terlihat malu, namun, setelah terus diajak dengan berinteraksi, ia pun menjadi aktif dan sering bertanya mengenai apa yang akan selanjutnya ia lakukan. Hal ini merupakan perkembangan yang baik.   Aga yang awalnya sulit untuk diajak berpartisipasi karena terus diam dan menunduk. Namun, Okto terus membujuk Aga hingga akhirnya Aga mau untuk diminta menggambar, belajar, dan bercerita. 
Jadi, kami menyimpulkan bahwa seluruh proses dan pihak pembelajaran perlu menyadaru bahwa sebuah proses pembelajran yang dilakukan adalah penting. Peserta didik harus mau ikut berpartisipasi yang dapat didorong oleh keterampilan pengajar dalam menciptakan suasa pembelajaran yang menarik.

Jika hal ini ditinjau dari Pedagogi, TIK, dan fenomena kontemporer...
Kami dapat menjawab beberapa pertanyaan esensial mengenai :
  1. Materi belajar apa yang dibutuhkan ?  Kami melihat bahwa bahasa inggris merupakan hal penting yang perlu dipelajari oleh anak untuk mengikuti perkembangan global
  2. Bagaimana cara meningkatkan mutu pembelajaran di kelas ? Setelah kami melakukan proses pembelajaran, kami mengetahui bahwa kesiapan dan kesediaan peserta didik dan pengajar merupakan hal penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran
  3. Bagaimana guru mengajar untuk memaksimalkan hasil ? Kami belajar bahwa guru perlu untuk menguasi materi, kelas, dan memahami karakteristik anak untuk memaksimalkan hasil
  4. Bagaimana guru membuat media pembelajaran dan apa kegunaannya dalam pembelajaran ? Kami menggunakan banyak media belajar seperti modul dengan warna menarik dan alat-alat tulis yang sering digunakn oleh anak yang berguna untuk membantu peserta memahami materi pembelajaran
  5. Bagaimana aplikasi TIK dalam pembelajaran yang memenuhi kriteria pedagogi ? Kelompok kami melihat penggunaan teknologi laptop dan internet dalam proses pembelajaran yang kami lakukan sangat membantu anak dalam menentukan gambar yang ia akan gambar. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa kami telah berhasil memasukkan teknologi dalam proses pengajaran kami.

Jika dilihat dari pedagogi efektif, kami telah berusaha melakukan :
  1. menciptakan lingkungan yang menunjung pembelajaran
  2. memfasilitasi pembelajaran bersama
  3. mendorong pemikiran reflektif dan tindakan
  4. cukup memberikan kesempatan untuk belajar
  5. menyelidiki hubungan belajar-mengajar

Fenomena kontemporer yang terjadi dapat dilihat dari penggunaan TIK yang banyak berpengaruh dalam proses pembelajaran. Aneka informasi yang dibutuhkan anak dapat diperoleh dengan mudah melalui internet. Hal ini seperti yang dilakukan Aga untuk mencari gambar pesawat yang akan ia gambar. Dengan proses pembelajaran yang semakin canggih, pengajar pun dituntut untuk ikut mengikuti perkembangan yang ada dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik menjadi lebih berkembang.


C. Pandangan saya mengenai pembelajaran pada perkuliahan Paedagogi di Fakultas Psikologi USU 2012/2013 dikaji dari tinjauan Pedagogi Teoritis dan Prinsip-prinsip Paedagogi berdasarkan yang diungkapkan Fatima Addine (2001) adalah:
  1. Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses pedagogis. Prinsip bahwa setiap proses pedagogis harus terstruktur telah diterapkan dalam mata kuliah ini. Hal ini dilihat dengan setiap pertemuan telah terstruktur dengan jelas. Tugas diberikan dengan struktur yang jelas yang telah diberikan di kontrak kuliah. Proses pembelajaran kelas Pedagogi yang terstruktur seperti ini telah banyak membantu peserta didik untuk mempersiapkan diri dan memahami materi pembelajaran.
  2. Prinsip hubungan sekolah dan kehidupan. Materi yang diajarkan dalam perkuliahan Paedagogi menurut saya memiliki hubungan dengan kehidupan khususnya dalam mengajarkan anak. Peserta didik diajarkan untuk memahami prinsip-prinsip yang ada dan teori-teori yang mendasari proses pembelajaran. Hal tersebut tentunya akan membantu peserta didik untuk mengajarkan anak dalam kehidupan nyata.
  3. Kombinasi karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Hal ini dapat dilihat bahwa dosen Paedagogi menghargai setiap usaha yang diberikan peserta baik secara kelompok maupun individu. Seringnya dosen memberikan feedback dan kritik yang membangun terhadap individu maupun kelompok mendorong kami untuk menjadi lebih baik
  4. Kesatuan pengajaran, pendidikan dan perkembangan proses.  Pada mata kuliah ini, peserta diajarkan untuk menghubungkan setiap materi yang ada karena itu semua saling berhubungan dan beketergantungan. Materi yang diajarkan juga diminta untuk dipraktekkan langsung sehingga peserta mengikuti dan menyadari perkembangan yang terjadi dalam proses pengajaran.
  5. Domain kognitif dan afektif tidak kering. Dosen melibatkan kedua aspek dalam proses pembelajaran di kelas Paedagogi, yaitu aspek kognitif dan afektif. Hal ini dilihat dari dosen meminta peserta untuk memahami materi serta menghayati, menghargai, dan menghormati segala proses pembelajaran yang terjadi. 
  6. Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang selalu melibatkan diskusi baik secara kelompok maupun diskusi bersama di kelas. Peserta dapat mengomunikasikan apa yang ia pikirkan dan peserta lain dapat menanggapi. Dosen juga memperhatikan dan membimbing arah diskusi dengan baik sehingga tercapai hasil yang diinginkan dengan maksimal.